Sore hari di Desa Delod Peken, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan selalu
melahirkan simfoni yang unik. Di satu sudut, terdengar hentakan dinamis kendang
dan gemerincing ceng-ceng yang beradu. Di sudut lain, sayup-sayup terdengar
suara anak-anak mengeja kosakata asing, bersahutan dengan lantunan sloka
berbahasa Bali yang adiluhung. Di desa yang menjadi salah satu urat nadi Kabupaten Tabanan
ini, sebuah gerakan transformatif sedang berlangsung. Melalui sinergi kegiatan
Sanggar Seni Tari dan Tabuh serta Kelas Bahasa Bali dan Bahasa Inggris, Desa
Delod Peken sedang menempa generasi mudanya: generasi yang berakar kuat pada
tradisi, namun siap terbang tinggi menggenggam dunia.
1.
Menjaga Ritme Leluhur: Sanggar Seni Tari dan Tabuh
Bale
banjar dan ruang sanggar di Desa Delod Peken menjelma menjadi kawah
candradimuka bagi para seniman cilik. Di bawah bimbingan para instruktur lokal
yang berpengalaman, anak-anak desa diajarkan esensi dari kesenian Bali yang
sesungguhnya.
- Sanggar Seni Tari:
Anak-anak dengan tekun melatih kelenturan tubuh mereka. Mereka belajar
mengunci posisi bahu, menggerakkan jemari dengan luwes, hingga memainkan
tatapan mata yang tajam namun anggun dalam tarian.
- Sanggar Seni Tabuh: Di sisi lain, para penabuh muda duduk berhadapan di depan barungan gamelan. Mereka belajar menyelaraskan ketukan, membaca isyarat pukulan kendang, dan menekan ego instrumen masing-masing demi melahirkan harmoni gamelan gong yang megah.
Seni tari dan tabuh di Delod Peken bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Di sini, nilai disiplin, rasa kebersamaan (ngayah), dan kerja keras ditanamkan sejak dini ke dalam jiwa anak-anak.
2.
Merawat Identitas: Kelas Belajar Bahasa Bali
Di
tengah gempuran budaya pop dan modernisasi kota Tabanan, Desa Delod Peken tidak
ingin kehilangan jati dirinya. Melalui kelas bahasa Bali, anak-anak diajak
untuk kembali mencintai bahasa ibu mereka.
Kegiatan
ini tidak hanya mengajarkan cara berbicara sehari-hari, tetapi juga
memperkenalkannya secara mendalam:
- Sor Singgih Basa: Anak-anak
diajarkan menempatkan tingkatan bahasa yang tepat (basa alus, andap,
dan kasar) sebagai bentuk penghormatan dan tata krama kepada orang
yang lebih tua maupun sesama.
- Nyurat Aksara Bali: Dengan
penuh kesabaran, jemari anak-anak dilatih untuk menggoreskan lembaran
kertas atau lontar, merangkai Pasang Aksara Bali yang indah.
Kelas
ini menjadi benteng pertahanan budaya, memastikan bahwa aksara dan bahasa suci
leruhur Bali tetap hidup dan bergema di hati generasi penerus.
3.
Menembus Batas Dunia: Kelas Belajar Bahasa Inggris
Sadar bahwa Tabanan merupakan bagian tak terpisahkan dari
Bali sebagai destinasi internasional, Desa Delod Peken melengkapi bekal
warganya dengan bahasa global. Setelah melestarikan bahasa ibu, anak-anak dan
remaja desa diajak menembus batas lewat kelas Bahasa Inggris.
- Metode Interaktif dan
Menyenangkan: Pembelajaran dikemas lewat lagu, permainan, dan simulasi
percakapan (speaking).
- Kepercayaan Diri Global:
Fokus utama kelas ini adalah meruntuhkan rasa ketakutan anak-anak dalam
berkomunikasi. Mereka diajarkan cara memperkenalkan diri, menceritakan
potensi desa mereka, hingga berdiskusi mengenai isu-isu umum menggunakan
bahasa Inggris.
Dengan menguasai bahasa Inggris, pemuda Delod Peken dipersiapkan untuk menjadi pelaku aktif di dunia pariwisata, ekonomi kreatif, dan pendidikan tinggi tanpa harus kehilangan jati diri mereka sebagai orang Bali.

Sinergi
Sempurna: Generasi Berkarakter Global
Keindahan dari seluruh rangkaian kegiatan di Desa Delod
Peken ini terletak pada keseimbangannya. Tidak ada dikotomi antara modern dan
tradisional. Seorang anak yang sore harinya dengan gagah memukul gangsa
atau menarikan Tari Baris, bisa jadi adalah anak yang dengan fasih
mempresentasikan idenya dalam bahasa Inggris, dan dengan sopan menyapa
tetangganya menggunakan Basa Alus Bali di malam hari.
"Bahasa
Bali untuk menjaga rasa dan jiwa, Seni Tari dan Tabuh untuk merawat raga dan
budaya, serta Bahasa Inggris untuk membuka jendela dunia."
Melalui denyut nadi kegiatan sanggar dan kelas bahasa ini, Desa Delod Peken, Kecamatan Tabanan, tidak hanya sekadar mencetak masyarakat yang cerdas secara akademis, melainkan manusia-manusia tangguh yang utuh—berwawasan global, namun tetap elok membumi dalam balutan tradisi.
Diposting oleh :
I Putu Eka Suryadharma
Pendamping Desa Kecamatan Tabanan
.webp)

.jpeg)





0 comments:
Posting Komentar